Imam Syafi'i adalah seorang tokoh besar pendiri Mazhab Syafi'i. Beliau dikenal sangat cerdas. Ada yang mengatakan bahwa sejak usia 7 tahun sudah hafal al-Qur'an. Beliau bukan berasal dari keluarga yang berkelebihan. Namun berkat kecerdasannya itu, beliau bisa belajar pada seorang guru di Mekah tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun. Imam Syafi'i dan Imam Malik bertemu di Madinah. Ceritanya, setelah berguru pada banyak ulama di Mekah, Imam Syafi'i ingin sekali melanjutkan pengembaraannya ke Madinah. Apalagi beliau mengetahui di Madinah ada Imam Malik, ulama yang termashur itu. Di hadapan Imam Malik, Imam Syafi'i mengucal al-Muwatta', kitab yang sebelumnya sudah dihafalnya saat berada di Mekah. Imam Malik sangat kagum pada Imam Syafi'i dan begitulah hubungan antara kedua tokoh besar itu selanjutnya.
Dalam tradisi Mazhab Syafi'i, saat melaksanakan shalat Shubuh dibacakan doa Qunut. Berbeda dalam tradisi Mazhab Maliki, tak ada doa Qunut dalam shalat Shubuh. Namun, perbedaan tradisi itu tak membuat hubungan keduanya retak. Mereka tetap menjadi guru dan murid yang saling menghormati pendapat masing-masing.
Suatu hari, Imam Syafi'i berkunjung dan menginap di rumah Imam Malik. Saling berkunjung dan menginap itu sudah menjadi kebiasaan antara keduanya. Imam Syafi'i diminta gurunya menjadi imam saat melaksanakan shalat Shubuh. Karena ingin menghormati gurunya, Imam Syafi'i tak membaca doa Qunut dalam shalat berjama'ah itu.
Begitu pun sebaliknya. Di lain hari, Imam Malik menginap di kediaman Imam Syafi'i. Saat Shubuh, mereka melaksanakan shalat Shubuh berjama'ah, Imam Syafi'i meminta gurunya menjadi imam shalat. Dengan alasan yang sama, Imam Malik pun membaca doa Qunut.
Imam Malik juga tokoh besar pendiri Mazhab Maliki. Beliau berasal dari keluarga terhormat, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Kakeknya, Abu Amir termasuk keluarga pertama yang memeluk agama Islam dan juga menjadi ulama hadis terpandang di Madinah. Sejak Muda, Imam Malik menjadi orang yang cinta kepada ilmu. Beliau belajar ilmu hadis pada ayah dan paman-pamannya. Al-Muwatta', kitab fikih yang berdasar dari kumpulan hadis-hadis pilihan, adalah kitab karangan beliau yang menjadi pegangan para santri sampai sekarang.
Your body receives a huge amount of electromagnetic waves daily. You get these electromagnetic waves through the electrical equipments that you use and various equipments which you can not leave. Also through the electrical lights which can not be switched off in certain cases if even at home. You are a source which receives huge amounts of electromagnetic waves. In other words you are charged with electromagnetic without realizing it. You have headache you feel uncomfortable, laziness in action and pain in different places. Don’t forget this when you feel some of these symptons.
What is the solution from all this ?. A non-muslim scientist (From Europe) made a research from which he concluded that the best way for the body to remove the positive electromagnetic charges which hurts the body is :
- By putting your forehead on the ground more than once so that the ground will discharge the positive harmful electromagnetic charges
- This is similar to the grounding of the building where any positive electromagnetic signals (like thunders) would be discharged through the ground
- So put your forehead on the ground to discharge the positive electromagnetic signals
- The best is to put your forehead on the same and it becomes more amazing that the best way is to put your forehead on the ground while you are positioned to the center of the earth. Since you will be able to discharge the electromagnetic signals in a better and more efficient way.
And you will be amazed when you know that electromagnetic is scientifically proven to be the center of the earth and the Kaaba as the exact center of the earth. So prostration in your prayer is the best way to discharge the harmful electromagnetic signals from your body. It is also the ideal way to b very close from the Almighty who created this universe in such a creative way.
Allah Almighty will always ask you to do thing because there are helpful and useful for us. There are cases when we won’t know the reason for a certain act, but sooner or later you might be able to find the reason. In any case you should trust the Almighty Alloh and know that whatever you do for Him is the best for you. We do not prostration to discharge the electromagnetic waves but to obey the Almighty Alloh we trust that in His commands there is always a wisdom an trust is because He is the creator, He knows everything.
However, since the scientific reason is available is not essential to show it to the people so that they can see that whatever muslims do is good for them.
Selengkapnya...Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigapmenangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. " Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. - "Umatku, umatku, umatku" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita sebagai umatnya. Tumbuhkanlah kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, dengan realiasi Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Mari kita mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas keluarga, anak, dan harta kita.
Pemeliharaan Al Qur'an menyangkut tiga hal, pentashihan, pengkajian, dan pemeliharaan secara fisik. Semua itu dilakukan sebagai implementasi dari firman Allah dalam surat al Hujuraat : 9 yang artinya, " Sesungguhnynya Kami menurunkan Al Qur'an dan Kami yang akan menjaganya."
Para ahli tafsir memahami ayat di atas adanya kemungkinan keterlibatan selain Allah dalam menjaga kesucian Al Qur'an yaitu partisipasi aktif dari masyarakat Islam.
Pertama, pentashihan, yakni menyangkut teks al Qur'an supaya tetap benar (jangan salah tulis). Kedua, menyangkut masalah pemahaman (tafsir) karena fungsi al Qur'an yang utama sebagai hudan (petunjuk). Sebagai petunjuk tentu saja al Qur'an harus dipahami dengan benar dan sekaligus diamalkan dala kehidupan sehari-hari. Di samping itu, al Qur'an ditulis dalam bahasa Arab, sehingga banyak umat Islam yang tidak paham. Maka itu perlu diterjemahkan dan dituliskan tafsirnya agar bisa lebih dipahami. Ketiga, sebagai kitab suci, al Qur'an secara fisik harus terpelihara dengan baik. Karena itu di Indonesia dibangun Bayt al Qur'an yakni museum al Qur'an yang berada di Taman Mini
Al Qur'an sesuai dengan namanya artinya bacaan, maka al Qur'an harus dibaca. Nama lain yang sangat populer adalah kitab yang artinya tulisan, maka al Qur'an harus ditulis/dituliskan.
Jadi secara historis, pemeliharaan al Qur'an melalui dua cara yaitu dibaca/dihafal dan ditulis. Sehingga jika ada teks yang salah bisa dipantai dan dikoreksi oleh para hafidz. Sebaliknya para hafidz juga memerlukan tulisan untuk menghafal al Qur'an, maka itu al Qur'an harus ditulis. Kedua cara tadi membaca dan menulis sama-sama penting. (dikutip dari Tabloid Dialog Jum'at)


